Ada Apa Dengan Film Indonesia? (AADC2 Review)

SPOILER ALERT: This article contains heavy spoilers from the movie “Ada Apa Dengan Cinta 2”. If you haven’t seen it and don’t want to get spoiled, stop reading now.

Oke. Saya baru saja menonton Ada Apa Dengan Cinta 2, karena ditodong oleh istri. 😀 yah, ngga sekejam itu juga sih. Film nya juga lumayan lah. Saya akui, saya jarang-jarang nonton film Indonesia di bioskop. Lebih tepatnya, saya jarang nonton bioskop. Menurut saya, nonton di bioskop itu khusus untuk film-film yang punya banyak special effect, yang efeknya akan hilang bila ditonton di layar kaca. Tetapi karena saya suami yang baik (jiehh) jadi saya mau mencoba menonton film drama Indonesia di bioskop. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Saya belum pernah nonton AADC 1. Tetapi film AADC 2 ini ternyata bisa cukup dinikmati tanpa perlu menonton jalan cerita film pertamanya, and that’s a good one, mengingat bahwa kedua film berjarak 14 tahun.
Setelah menonton, sekalipun secara keseluruhan saya nilai filmnya cukup baik, ada beberapa bagian-bagian yang saya merasa ini adalah kelemahan film Indonesia secara umum. Lebih tepatnya, film sinetron Indonesia secara umum, sebab seperti yang saya bilang, saya jarang nonton film Indonesia di bioskop. Kelemahan itu adalah tidak adanya keberanian sutradara dan script writer untuk mengupas konflik emosi secara tuntas dan realistis.

For example, saya bisa merasakan kemarahan Cinta ketika pertama bertemu Rangga, dan saya bisa memahami ketika sedikit demi sedikit perasaan Cinta terbuka terhadap Rangga ketika Rangga mulai menceritakan tentang ibunya yang pergi meninggalkannya. Tapi saya agak merasa aneh ketika tiba-tiba Cinta entah dari mana nyeletuk dengan marah “kamu ngga hubungin aku pasti karena punya perempuan lain ya??” dan tiba-tiba menampar Rangga dan pergi. Belum habis keterkejutan saya, tiba-tiba Cinta beringsut-ingsut datang kembali dan mengatakan untuk mari kita lupakan kejadian di masa lalu, kemudian mengajak berjabat tangan.

What. The. Hell.

I totally could not relate to their feeling at all at that time. Si Cinta itu jadinya mau marah atau mau memaafkan atau mau bikin stand up comedy?? Oke lah kalau itu mungkin celah yang dipaksakan ada untuk iklan Aqua pada adegan setelahnya. Tapi saya sama sekali tetap tidak bisa relate bagaimana bisa Cinta tiba-tiba dari simpatik menjadi marah lalu simpatik lagi seperti tidak ada apa-apa di sepanjang jalan selanjutnya.

Lalu saya juga tidak begitu suka dengan resolusi dari film ini. Cinta akhirnya dengan Rangga, bukan dengan Trian, padahal mereka sudah engaged. Menurut akal sehat, tidak fair dong bila kemudian Cinta berakhir dengan Rangga, bukan dengan Trian. Rangga adalah masa lalu Cinta, tidak peduli apapun alasan Rangga. Apalagi Cinta sekarang sudah hampir jadi ‘milik’ orang lain. Kalau film ini berakhir dengan Cinta bersama Trian, sekalipun berakhir bittersweet, film ini akan punya pesan dan makna yang lebih baik. Saya memang sempat sempat berpikir, ketika Trian memilih untuk mengangkat telepon saat sedang makan bersama Cinta, ketimbang mendengarkan apa yang Cinta ingin katakan, saya berpikir “Waw, orangnya cukup berambisi juga ya untuk bekerja. Apakah dia memang benar-benar orang yang tepat untuk Cinta?” Tetapi mengingat dia sudah ada bersama Cinta selama beberapa lama, dan dia juga sudah mengusahakan hubungan dengan Cinta, fair nya sih Cinta pasti sudah menghitung untung rugi nya untuk tetap jalan dengan Trian selama itu, apalagi mereka sudah sampai engaged.

Selanjutnya, ketika di adegan agak terakhir, ketika Trian memergoki Rangga yang buru-buru keluar dari galeri Cinta karena Cinta menolaknya. Jelas pasti Trian sebagai pria normal akan menginterogasi Cinta, dan saya sudah ‘menunggu’ adegan tersebut, apakah Cinta bisa ‘lolos’ dari hal ini dengan baik? Bagaimanakah pemeran utama film ini akan menangani ketika dia diposisikan sebagai tokoh yang bersalah dalam cerita ini? Tapi ternyata scene tiba-tiba di cut menjadi Cinta mengendarai mobil mengejar kepergian Rangga.

Again. What the hell.

Konklusi yang saya dapat malahan: oh karena saya sudah tertangkap basah dengan Rangga, jadi mending sekalian Trian saya tinggal untuk pergi kepada selingkuhan saya. Jadi Rangga jadi the last resort oleh karena Trian sudah tidak mau lagi padanya, padahal Rangga juga adalah penyebab semua ini terjadi? Jadi kalau Cinta disakiti hatinya, dia bebas untuk marah-marah pada Rangga, tapi kalau Trian yang disakiti hatinya, dia bebas untuk pergi dari Trian? Oh cmon, you can do better than this, Indonesian scriptwriter! Jangan oleh karena mengejar ‘target’ bahwa Cinta harus bersama Rangga, maka alur emosinya menjadi tidak logis. Itu kalau saya tambah satu adegan yaitu Trian yang sedih dan merenung kenapa Cinta tega-teganya mengkhianati dia, maka Cinta akan langsung dengan sukses berubah dari tokoh protagonis menjadi tokoh antagonis lho. Jangan oleh karena Trian adalah pemeran pembantu maka perasaan Trian menjadi tidak penting untuk dieksplorasi! Saya tidak bisa menikmati adegan akhir antara Cinta dengan Rangga oleh karena saya terus kepikiran Trian. Pesan apa yang mau disampaikan kepada generasi ini kalau film yang sedang hot yang ditujukan pada kaum remaja sampai dewasa saja begini pesannya?

Jangan salah. Saya menyukai film ini. Saya suka dengan hubungan persahabatan antara Cinta dengan teman-temannya. Bahkan adegan Cinta bertengkar dengan Carmen pun sempat membuat saya menitikkan air mata. Tapi kecacatan dalam beberapa konflik-konflik yang justru puncak inilah yang membuat saya tidak bisa menikmati film ini dengan baik, bahkan ending dari film ini tidak terasa rewarding karena justru yang saya lihat dari adegan terakhir itu adalah perselingkuhan dan pengkhianatan.

Kira-kira sekian dari saya. Post ini saya buat demi kemajuan film Indonesia juga. Kalau anda punya pandangan atau masukan, silahkan sampaikan di kolom komentar. Terima kasih. Maju terus perfilman Indonesia!