Fenomena Kemenangan Jokowi di Luar Negeri

English reader, please scroll to the second part of the post to read the English summary of this article.

Saat Pemilu sudah semakin dekat. Saya pun semakin excited menunggu kapan Pemilu dimulai. Tanpa terasa, besok Rabu adalah hari di mana kita mencoblos calon presiden impian kita masing-masing. Kurang dari tiga hari lagi saudara-saudara! Jangan salah tanggal, atau anda akan ketinggalan dalam berpartisipasi menentukan akan dibawa ke mana perjalanan negeri ini. Jangan golput!

Berbicara tentang pemilu yang semakin mendekat, ternyata ada warga negara Indonesia yang sudah nyoblos lho. Mereka adalah WNI yang tinggal di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Australia, New Zealand, Papua New Guinea, sampai Amerika Serikat. Mengapa mereka mencoblos dahulu? Karena nanti hasil surat suara itu masih harus dikirimkan kembali ke Indonesia agar dapat dihitung bersama-sama dengan pemilu resmi yang digelar di seluruh Indonesia. Ini namanya early voting. Total jumlah WNI di luar negeri sekitar 4 juta orang. Namun yang tercatat di DPT (Daftar Pemilih Tetap) hanya sekitar 2 jutaan.

Ada fenomena yang menarik pada pilpres kali ini yang saya amati. Yang pertama adalah jumlah WNI yang mengikuti pemilu presiden meningkat drastis dan penuh antusiasme dibandingkan jumlah WNI yang mengikuti pemilu legislatif. Antrian WNI yang ingin mengikuti pemilu di Australia bahkan dikabarkan seperti antrian orang yang mau beli iPhone. Bahkan ada banyak WNI yang belum tercatat di DPT, tapi tetap datang dan mau ikut mencoblos, yang untungnya tetap dilayani oleh KBRI. Ini menarik, karena sudah merupakan pemandangan umum bahwa masyarakat kita banyak yang tidak terlalu memperdulikan pemilu. Ada yang bilang “Siapapun presidennya, tokh hidup saya juga tetap susah!” Sikap-sikap apatis ini yang sebenarnya sudah menjadi ‘normal’ kita dengar di sekitar kita. Jadi ketika saya membaca berita bahwa jumlah pemilih meningkat drastis, bahkan di Malaysia bisa mencapai empat kali lipat dibandingkan saat pemilihan legislatif. Ngga cukup sampai di situ, ketika tadi pagi ada berita soal TPS di Hongkong yang tiba-tiba ditutup bahkan ketika masih ada pemilih yang masih mengantri untuk mencoblos, mereka melakukan demo. Wow, segitu ngebelain banget kah untuk nyoblos? Ada apa ini sebenarnya? Apa yang membedakan pemilu kali ini dengan pemilu sebelumnya?

Tetapi ada fenomena yang kedua, yaitu berdasarkan hasil survey exit poll di sini dan di sini (survey yang dilakukan setelah orang mencoblos) di TPS-TPS di KBRI, menempatkan Jokowi-JK unggul jauh dibandingkan pasangan Prabowo-Hatta. Dari data di link berita yang saya berikan, saya tuliskan rangkumannya sebagai berikut:

  • Arab Saudi: 75% suara.
  • Eropa: 60% suara.
  • Amerika: 80% suara.
  • Australia: 85% suara.
  • Timur Tengah: 70% suara.
  • Jepang: 74% suara.

Di sini saya cukup terkejut, walaupun sebenarnya tidak terlalu terkejut. Saya cukup terkejutnya karena kemenangan Jokowi-JK sangat telak. Saya berpikir mungkin di negara A Jokowi-JK menang, di negara B Prabowo-Hatta menang. Tetapi dari berita-berita lain yang saya kumpulkan, semuanya menyebutkan bahwa di semua negara, Jokowi-JK menang, dan menangnya dengan kemenangan yang telak. Ketika saya menghubungkan dengan fenomena pertama, dapatlah saya ambil kesimpulan pribadi bahwa WNI di luar negeri yang jumlahnya meningkat berbondong-bondong mengikuti pemilu, itu secara mayoritas memilih Jokowi. Berarti orang-orang yang biasanya malas memilih (atau berhalangan untuk memilih karena berbagai sebab), itu sekarang mau repot-repot mengusahakan untuk datang ke KBRI dan menggunakan hak suaranya, hanya untuk memilih Jokowi.

Kenapa? Itu pertanyaannya. Pada kenyataannya, banyak WNI di luar negeri pada umumnya tidak terlalu suka mengasosiasikan dirinya dengan Indonesia. Bila ditanya oleh orang asing, berasal dari kewarganegaraan manakah anda? Maka kebanyakan akan menyebut “Indonesia” dengan agak malu-malu. Mengapa? Karena sudah rahasia umum bahwa yang luar biasa dari Indonesia hanya dua hal: jumlah penduduknya, serta sumber daya alamnya. Di tangan kapitalis yang cerdik dan mampu mengambil keuntungan, itu seperti berbicara tentang ‘ladang eksploitasi’ secara implisit. Jumlah penduduk yang besar, namun tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas penduduk, hanya berarti Indonesia adalah sumber limpahan ekspor barang-barang dari negara-negara lain. Pasar yang besar, hanya bisa konsumsi, bangga dengan merk luar negeri, tetapi minim berproduksi. Sumber daya alam yang besar, namun sekali lagi tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas penduduk untuk mengolah sumber daya alam itu, juga hanya membuat penanam modal asing masuk untuk mengeksploitasi sumber daya alam tersebut, bahkan dapat mempekerjakan warga sekitar dengan upah yang sangat minim, oleh sebab tidak adanya kualitas manusianya. Masa sumber daya alam ditambang dan diekspor mentah-mentah dengan harga murah, diolah di luar negeri, lalu diimpor kembali ke dalam negeri dengan harga mahal? Dari dulu saya sama sekali tidak mengerti pola pikir pemerintah yang diam-diam saja dengan keadaan seperti itu, apa yang di pikiran mereka! Dengan kesadaran seperti itu, ketika seseorang memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia kepada orang asing, dengan sendirinya ia juga melekatkan label “golongan kelas dua” dan “negara dunia ketiga” kepada dirinya sebagai impresi awal bagi kenalan barunya, walaupun dirinya sebenarnya sudah mengusahakan untuk berpendidikan tinggi dan tidak miskin-miskin amat. Tanpa sadar, WNI-WNI kita yang di luar negeri telah mendiskriminasi diri mereka sendiri ketika mereka memiliki sedikit saja rasa malu ketika memperkenalkan diri mereka berasal dari Indonesia.

Tidak percaya? Papa saya pernah suatu kali sedang berlibur di Singapura. Ia kemudian menumpang taksi dari bandara menuju ke hotel yang telah dipesannya. Di dalam perjalanan, sopir taksi itu bilang, “Dari negara mana nih?” Papa saya berkata “Dari Indonesia.” Sopir taksi tersebut segera menyahut, “Oh Indonesia. Saya tahu. Negara miskin itu. Penduduknya sih ada yang kaya. Tapi negaranya miskin.”

Saya begitu diceritai papa saya tentang kejadian itu, itu sangat menancap di hati saya. Betapa rendahnya image negara Indonesia, sampai seorang supir taksi pun dengan tidak sungkan menghina negara Indonesia di depan hidung warga Indonesia sendiri! Saya pikir, supir taksi itu sudah sangat sangat tidak sopan sekali. Kalau saya ada bersama dengan papa saya saat itu di dalam taksi, mungkin sudah saya damprat. Sayangnya karena papa saya orang yang baik hati, sabar, lemah lembut, tidak sombong, dan suka menabung, maka dia diam saja saat itu. Tapi ketika saya introspeksi dan renungkan, lha memang kenyataannya yang ditampilkan dari negara kita banyak yang buruk. Kemiskinan, huru hara, tawuran antar pelajar, korupsi impor sapi, korupsi kitab suci, korupsi dana haji, bahkan sampai perang hujat menghujat di media sosial tentang pemilihan presiden. Kalau memang kenyataannya Indonesia banyak yang ditampilkan yang buruk-buruk, masa kemudian kita menyangkal dan berkata “Salah! Jangan memfitnah! Black campaign itu!” kan ya aneh ya to. Trus apa kita kemudian mau menyangkal pada diri sendiri bahwa Indonesia baik-baik saja, masih dipuja-puja oleh bangsa-bangsa, padahal kenyataannya hanya dipandang sebelah mata?

Namun tiba-tiba, muncul satu orang ini. Orang yang dengan semangatnya untuk kerja, kerja, kerja! telah meraih bejibun penghargaan bagi setiap prestasinya. Bahkan penghargaan itu tidak hanya datang dari dalam negeri, namun juga luar negeri. Contohnya, meraih penghargaan yang diselenggarakan oleh The City Mayors Foundation sebagai walikota terbaik ketiga dunia, bahkan Jokowi juga masuk daftar 50 pemimpin terhebat versi majalah Fortune. Kantor berita The Diplomat menulis tentang Jokowi dalam nada yang sangat positif, menteri luar negeri Inggris William Hague juga tertarik berbincang-bincang lebih jauh dengan Jokowi soal e-government, dan masih banyak lagi. Hal yang sedemikian hampir tidak pernah kita dengar ketika gubernur sebelum Jokowi menjabat sebagai gubernur Jakarta, atau walikota Solo sebelum Jokowi menjabat sebagai walikota Solo. Yah, kecuali bagi beberapa pemimpin bangsa yang berprestasi seperti bu Tri Rismaharini misalnya, yang sekarang menjadi walikota Surabaya (kota saya dong, bangga dikit boleh kan 🙂 ). Dalam pandangan dunia, Jokowi digambarkan sebagai the rising leader, seseorang yang fenomenal, seperti ketika waktu dahulu Obama menjadi tokoh fenomenal saat pemilu. Bahkan media Australia menyebut Jokowi adalah Obamanya Indonesia.

Begitu WNI di luar negeri mulai mendengar di berita dan membaca di koran di tempat mereka masing-masing, bahwa saat ini pemberitaan tentang Indonesia berubah menjadi positif, bukan lagi melulu tentang kemiskinan, bencana alam, kerusuhan, serta korupsi, namun mulai berganti menjadi adanya harapan baru bangkitnya sosok pemimpin yang mampu merubah wajah Indonesia — serta merubah label buruk yang menempel pada diri mereka — menjadi lebih baik, itu membangkitkan suatu harapan baru bagi para WNI di Indonesia. Kalau dilihat dari link video berisi demo di atas, terdengar isi protes calon pemilih adalah karena KPU hendak mencurangi suara Jokowi, dan langsung disambut pekik teriakan sekian ratus orang. Berarti semua orang itu memang benar-benar niat menunggu ber jam-jam (kabarnya ada yang mencapai tiga jam) hanya untuk mencoblos Jokowi. Sementara, jujur saja, ketika mereka melihat calon presiden yang satu lagi, mereka tidak dapat melihat asosiasi baik dapat dilekatkan pada diri mereka dari calon presiden tersebut. Kabar yang paling santer terdengar di luar negeri tentang Prabowo adalah bahwa Prabowo adalah pelanggar HAM yang bahkan belum pernah diproses kasusnya di pengadilan, terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut. Bila Prabowo menjadi presiden, maka ketika saudara-saudara kita yang di luar negeri memperkenalkan dirinya kepada kenalan baru, bertambah lagi satu label buruk, yaitu berasal dari negeri yang presidennya adalah pelanggar HAM. Kita dapat menyebutkan contoh negara yang pemimpinnya sangat melanggar HAM. Ya, Korea Utara. Bukankah begitu disebutkan tentang nama Korea Utara, image yang melintas di pikiran kita tentang Korea Utara sangatlah buruk? Bila tiba-tiba kita dikenalkan oleh seseorang, yang disebutkan dari Korea Utara, bukankah di pikiran kita langsung terlintas, “Oh wow, ini orang yang berasal dari negara yang sangat represif terhadap rakyatnya.” Dan sekarang image yang sama hendak mulai dilekatkan pada diri kita pula saat ini? Oh maaf saja, kata saudara kita di luar negeri. Sudah terlalu banyak image buruk tentang Indonesia. Sudah saatnya Indonesia memiliki satu image baik yang menjadi sumber perubahan Indonesia, agar kelak nanti ketika memperkenalkan diri, mereka dapat berkata, “Saya dari Indonesia, yang sekarang masyarakatnya menjadi maju berkat dipimpin Joko Widodo lewat Revolusi Mentalnya!” Karena sumber daya terbesar dari sebuah negara bukan sumber daya alamnya, tetapi sumber daya manusianya.

Mari kita ingat pesan dari penggalan satu lagu di bawah ini, agar Indonesia tetap menjadi seperti yang kita cita-citakan bersama.

Indonesia Tanah Air Beta

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Mari kita sukseskan Pemilu. Jangan golput. Suara anda sangat menentukan nasib dan arah negara Indonesia mau dibawa ke mana selama lima tahun ke depan. Seperti anda, saya juga sudah eneg melihat semua peperangan social media dan black campaign ini. Mari kita akhiri dengan kemenangan Jokowi sebagai presiden RI dan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden RI. Salam dua jari!


English summary

This is an article about a phenomenon of the explosion of votes count for Jokowi in survey based on Exit Poll method in early election for the Indonesian people in foreign country. Jokowi wins with absolute wins on every country, with the vote is 60%-85% for Jokowi. I wrote this article to give deduction why Indonesian people on foreign country in majority votes for Jokowi.

It’s not a secret that Indonesia often looked on the corner of the eyes. Poverty, disaster, riots, and corruption plagued news about Indonesia that sometimes people on other countries might started to hard to believe that there’s any good can comes from Indonesia. Indonesian people who lives on foreign country often unconsciously ‘discriminate’ themselves by putting labels on themselves as the citizen of poor and uneducated country.

Until Jokowi arrives. His quick rise to the top of the Jakarta leadership can be attributed to his hard working attitude to bring clean and impacting government into reality. Started from when Jokowi was a city mayor in Solo (2005-20012), and then governor of Jakarta, the capital of Indonesia (2012-2014). Many awards have been given to him, ranging from award from Indonesian government, Indonesian media and foundations, to International awards. He is listed as the third best mayor from The City Mayor Foundation, 50 best leader from Fortune, and many other news covering Jokowi good track records.

The Indonesian people in foreign country then realized that this is the chance for them to fix Indonesia’s image, and can make them proud again to be called ‘Indonesian people’. Meanwhile, the image of Prabowo, the other candidate running presidential election, is most commonly associated with human rights violation (of the events happened in 1998). Whether it’s correct or not, the image has already etched onto Prabowo, and the Indonesian people on foreign country wouldn’t want to add one more ‘shame factor’ to their birth country ‘shame list’. That’s why the majority folks there choose Jokowi, someone with a clean and good reputation, over Prabowo, which has been tainted with human rights violation.

Let’s hope the best candidate will be elected to be the next President of Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s