Fanatisme dan Kekerasan (Fanaticism and Violence)

Dear English readers, please scroll to the second section of the post to read the English version.

Kamus Besar Bahasa Indonesia:
fanatisme: /fa·na·tis·me/
n keyakinan (kepercayaan) yg terlalu kuat thd ajaran (politik, agama, dsb).

Beberapa waktu ini kita dihadapkan pada kondisi suasana politik dan agama yang memanas di Indonesia oleh karena pemilihan Presiden. Dengan mudah seseorang dapat berkelahi dengan orang lain hanya karena berbeda agama atau berbeda pasangan calon presiden yang diusung. Yang paling anyar adalah bentrokan pendukung Prabowo dengan pendukung Jokowi di Yogyakarta. Tak kalah serunya, dunia media sosial serta situs berita online pun dipenuhi dengan hujatan-hujatan antar pendukung agama atau calon presiden tertentu kepada pihak lawan. Saya kadang-kadang menjadi salah satu peramai debat di media sosial dan situs berita tersebut di waktu luang saya. Saya akui pada dasarnya memang saya suka untuk berdebat. Ada suatu kepuasan tersendiri apabila saya berhasil mengalahkan atau mematahkan pendapat dari lawan, kalau saya yakin saya benar.

Tapi belakangan ini, saya kebanyakan hanya melihat-lihat. Saya merasa cukup jenuh memperhatikan debat kusir tak berkesudahan dari masing-masing pendukung pasangan presiden. Masing-masing merasa dirinya benar. Saya adalah orang yang suka mengamati orang lain. Kalau saya membaca debat komentar di situs berita, saya seringkali menimbang-nimbang logis tidaknya dari setiap argumentasi yang diucapkan. Semakin lama saya semakin banyak melihat bahwa argumentasi counter yang diucapkan untuk membalas argumentasi dari orang lain itu seringkali tidak nyambung atau tidak masuk akal. Kadang saya merasa bahwa argumentasi dari seseorang sudah cukup kuat. Betapa herannya saya ketika melihat ada orang lain yang masih melawan argumen tersebut dengan logika yang tidak masuk akal. Seperti seolah-olah mereka telah menutup mata dan pikirannya terhadap pola pikir orang lain, seperti seolah-olah orang lain salah dan saya saja yang benar. Saya memang condong ke Jokowi, saya akui itu. Tetapi apabila saya temui ada fakta-fakta yang tidak baik tentang Jokowi, saya tidak serta merta menyanggah dengan segala ilmu debat kusir dikerahkan untuk memutarbalikkan fakta. Saya meneliti dahulu kebenarannya, dan bila memang benar, saya tentu memilih untuk diam.

Oleh karena itu saya terkadang heran, masa untuk urusan pemilihan presiden aja harus pukul-pukulan? Hina-hinaan? Masa untuk urusan agama saja harus bentrok-bentrokan? Ini tidak hanya terbatas untuk politik dan agama. Fans klub sepak bola pun juga bisa begitu, yang mana ini semakin membuat saya heran. Hanya masalah klub kesayangannya menang atau kalah saja bisa berubah menjadi ajang pembantaian antar suporter. Pertanyaan saya, apakah penting itu semua terjadi? Klub yang didukung pun ya akan tetap baik-baik saja entah anda memenangkan bentrokan tersebut atau tidak. Calon presiden yang didukung pun akan tetap menjalani kampanye seperti biasa entah tawurannya dimenangkan kelompok anda atau tidak. Tuhan pun juga akan tetap bekerja di dalam kedaulatannya, tidak peduli apakah agama anda atau agama yang lain yang memenangkan sebuah pertempuran. Ini semua adalah akibat dari fanatisme. Penting kah untuk berteriak-teriak dan saling mengolok-olok dengan bahasa yang tidak pantas di situs berita? Saya yakin ada banyak cara yang lebih santun untuk menyampaikan pemikiran kita, walaupun kita tahu bahwa yang sedang kita hadapi adalah mungkin saja seseorang yang dibayar untuk menciptakan kesan ketidaksetujuan. Membaca semua percakapan-percakapan yang tidak beradab itu membuat saya lelah.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Ketika saya melihat dan memperhatikan diri saya sendiri, saya menemukan sesuatu hal tentang fanatisme. Fanatisme dapat menjadi sedemikian kuat dan berakar di dalam seseorang, itu oleh karena semua hal ini berawal dari satu kecenderungan dasar manusia, yaitu ingin mengasosiasikan dirinya dengan kelompok yang benar. Mempunyai status “benar” itu adalah sebuah perasaan yang luar biasa yang membuat kita merasa mampu menerobos segala sesuatu. Sedari dulu, “benar” selalu diasosiasikan dengan berada di posisi di atas yang “salah”.

Permasalahannya adalah, kadang-kadang orang untuk mencari atau mempertahankan status “benar” ini, memakai cara-cara yang sebenarnya membawa mereka kepada keadaan “salah”. Apalagi bila bukan kekerasan. Kenapa orang memakai cara kekerasan? Sebenarnya ini berhubungan dengan rasa takut. Setiap orang takut dengan roda kehidupan yang berputar. Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Hari ini benar, besok bisa jadi salah. Hari ini menyombongkan diri terhadap kelompok sebelah, besok dihina-hina oleh kelompok sebelah. Keadaan “salah” itu adalah keadaan lemah, powerless. Tidak ada yang mau keadaan lemah seperti itu, bila sudah ‘terbiasa’ mengasosiasikan diri dengan kelompok yang kuat. Karena itu setiap orang berusaha mempertahankan keadaan itu dengan melakukan kekerasan. Selagi berkuasa, selagi “benar”, maka orang yang “salah” akan dipaksa dengan kekerasan untuk bergabung dengannya, tunduk padanya, atau dieliminasi. Tetapi sebenarnya kita melihat bahwa dibalik setiap kekerasan yang dilakukan oleh karena fanatisme, sebenarnya terkandung rasa tidak aman, rasa takut, rasa khawatir. Mereka selalu kuatir untuk “menelan obat mereka sendiri”, bahwa apa yang selama ini mereka lakukan kepada orang lain, akan dikembalikan kepada mereka. Ketika seseorang memaknai fanatismenya dengan cara yang tidak sehat, maka fanatisme mereka akan datang kembali menghantui diri mereka sendiri.

Sebaliknya, sebenarnya adalah mungkin untuk membuat sebuah pilihan, tetapi memaknainya bukan dengan fanatisme dan kekerasan, namun dengan pikiran yang terbuka. Fanatisme berkata bahwa pilihan kita itu adalah identitas kita. Tetapi orang-orang bijak melihat bahwa pilihan yang dibuatnya itu hanyalah alat semata. Pilihannya itu tidak mendefinisikan dirinya. Ia tahu bahwa setiap saat ia dapat salah. Dan yang perlu ia lakukan adalah mengganti keputusannya dengan keputusan yang benar. Simple. Ia tidak khawatir apa yang akan dikatakan oleh orang mengenai dirinya, karena bila dirinya gagal karena menuruti perkataan orang lain, orang tersebut tokh juga tidak akan bertanggungjawab mengenai kegagalan dirinya.

Orang-orang bijak juga tahu bagaimana memilih medan pertempurannya. Mereka tidak memihak kepada kelompok yang “benar”. Mereka memihak kepada kebenaran. Mereka tidak memihak kepada agama. Mereka memihak kepada Tuhan. Mereka tidak marah bila mereka hanya sekadar kalah berdebat. Tetapi mereka akan berjuang bila melihat kekalahan perdebatan akan menghasilkan keputusan yang membuat orang kaya semakin kaya sementara orang miskin semakin miskin. Mereka tidak akan dengan serta merta melakukan segala cara apapun untuk menjatuhkan “kelompok oposisi”, tapi akan melakukan reason, sambil tetap menjaga pikiran tetap terbuka. Karena bisa jadi yang saat ini dipegangnya sebagai kebenaran, ternyata tidak benar.

Hari ini, mari kita melihat ke diri kita masing-masing, apakah kita sudah mulai memiliki fanatisme terhadap sesuatu di dalam hati kita, yang membuat kita tidak mampu menerima pendapat orang lain yang berseberangan dengan kita. Pemain bulu tangkis yang menjadi juara itu bukan hanya yang belajar dari pelatihnya saja, namun yang juga belajar dari lawan-lawannya. Kita tidak mungkin benar 100% pada setiap waktu. Hanya ketika kita berani mengakui bahwa kita salah dan bersedia membuka pikiran bagi sesuatu yang nampaknya sangat berbeda dari kita, barulah kita bertumbuh.


English version

According to Merriam-Webster Dictionary:
Fanaticism: \fə-ˈnat-ə-ˌsiz-əm\ fanatic outlook or behavior especially as exhibited by excessive enthusiasm, unreasoning zeal, or wild and extravagant notions on some subject

Here in Indonesia, the tense of election and religion war is heating up. I believe this is also true in any countries in the world that will hold elections. Especially when the choice is not so numerous. The coming election that only has two candidate running for presidential seat, Prabowo and Jokowi, makes people can easily injure and harm other people just because the people has different view or opinion toward particular subjects such as who’s the president they support or what their religion is. The latest issue is how the supporter of Prabowo clashing with supporter of Jokowi in Yogyakarta.

I just using quite some times to contemplate on why we human exhibit such behavior. I don’t think that having conflict over a presidential election is worth it. I do like to have debate on online news comment sections. But even I have my own limit, because I noticed that discussion on online media has become out of logic. They keep pushing what they believe into other people’s mind without taking other people’s opinion into perspective. They mocking, harassing, swearing, and even insulting, using very inappropriate words. That made me lost my appetite to keep discussing that topic. I believe this is caused by fanaticism behavior.

Is it necessary to mock or harass other people in news site? Is it necessary to upload and vent all the angers and hateful comments just because we feels we’re can’t be held responsible for what we said in the news site? I believe there’s another way to saying something. The right way, or the wrong way. From what I see on Indonesian online news media, eighty percent of the commentators use hateful and derogatory words to a point that I can’t believe this is people of Indonesia that wrote those comments, who other nations once hailed as a polite and loving nation. All of these hateful comments started to making me feel sick.

Why people can exhibit fanaticism behavior? It’s because people tend to align themselves into the “winning” group. They want to have the “right” status, and deliberately avoid “wrong” status. “Right” status often associated with power, in control, where as “wrong” status usually related with powerless, weak, owned. They realized too much that wheel of life will keep rotating. Sometimes you can be on the top side, sometimes you can be on the bottom. The only way they tried to maintain the top position is by threatening other people. They don’t want to admit that sometimes they might be wrong, because being wrong is associated with weak. So, while they’re in control, they tried to subdue other groups using violence, so that the other groups will never be able to rise above them, or they will try to eliminate them. Violence here can means harsh physical contact, or harsh words. But actually, when I’m contemplating on human behavior about fanaticism, it actually covers fears within. There’s an unspoken fear, sense of insecurity, and worry. The thing is, if they started to embrace the fanaticism, their behavior will haunt them one day. There will always be a restless days just because they afraid the wheel of life and fate has been turned. They just afraid that one time, they turned out to be wrong.

Instead, what we must maintain is our open mind over our decision. We still make our decision, but we also need to keep an open mind, because nobody can be 100% true on 100% of times. You choice is not your identity. Wise man will only regard their choices as a tool. They understand that they can anytime do wrong or make a wrong decision. If that happens, all they have to do is just change their decision to the correct ones. No need to feel that it’s a grave insult to his identity because of that.

Wise men knows how to choose their battle. They don’t align themselves with correct group. They align themselves with righteousness. They don’t take side with religion. They take side with God. They don’t get upset when they lose in arguments. But they will do everything in their power to win the arguments if they see that the outcome of this debate will make the rich richer, and the poor poorer. They keep their mind opens, because they realized that what they now hold on onto, may someday turns out to be false.

How about us? Do we have fanaticism in our heart, something we hold dear that makes our identity, that makes us can’t accept other people’s opinion? A victorious badminton player is not only learns from his coach, but also from his opponents. We can’t be right 100% at all times. Only when we brave enough to admit that we’ve done wrong, and open our minds to something that looks nothing like what we know all this time and give it a consideration, only then we will able to start to grow.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s