Mengapa Saya Memilih Jokowi

This post is in Indonesian language, as it is talking about current Indonesian politic season. English readers please scroll to the bottom of the article for summary of this post in English.

Pemilu Presiden tinggal sekitar 20 hari lagi. Dan telah banyak hingar bingar pendukung presiden dari kedua kubu saling menyuarakan opininya. Sejujurnya, ini Pemilu pertama yang saya ikuti dengan seksama. Selama ini saya kalau Pemilu memang selalu menggunakan hak pilih saya, tetapi saya tidak pernah mendalami rekam jejak, kualitas, dan karakter dari orang yang hendak saya pilih. Pilihan biasanya saya buat dalam lima detik sebelum mencoblos.

Tapi pada tahun ini, keadaan berubah, karena pilihan kandidat tidak terlalu banyak, dan karena para kandidat semuanya adalah media darling pada saat ini. Masing-masing kandidat memiliki pendukung fanatik sendiri-sendiri, dan semua aktivitas mereka semakin “melengkapi” (kalau tidak bisa disebut “membiaskan”) fakta-fakta dan informasi yang ada di lapangan, sementara media pun jaman sekarang banyak yang sudah condong ke salah satu kandidat.

Mungkin bagi banyak orang yang terkoneksi dengan Facebook saya, sudah mengetahui bahwa secara pilihan saya lebih condong ke Jokowi. Beberapa berita yang saya share dan re-share di Facebook cenderung mengunggulkan Jokowi atau mengorek kekurangan Prabowo. Itu memang agak susah dikatakan sih, sebab memang di newsfeed saya entah kenapa sepertinya hampir semua friends saya memiliki pilihan yang sama seperti saya. Tapi mungkin karena saking fanatiknya orang-orang, banyak sekali beredar di luar sana pembahasan-pembahasan yang menggunakan bahasa-bahasa yang sebenarnya tidak layak dan merendahkan, sekalipun ada namanya freedom of speech. Karena itu saat ini saya tertarik untuk memberikan pemikiran tentang mengapa saya memilih Jokowi, dengan bahasa yang sesantun mungkin.

1. Jokowi tidak mempunyai beban masa lalu.

Entah apapun yang dahulu pernah dialami oleh Prabowo, Jokowi merupakan kandidat presiden yang tidak memiliki beban masa lalu. Saya mendukung Jokowi bukan karena sekedar asal dukung. Saya tetap menjaga pikiran yang terbuka yang mau menerima masukan dari kubu “lawan” tentang apa yang mungkin kurang dari Jokowi. Tetapi ketika saya hendak mendukung Jokowi, saya meriset latar belakang dari kedua calon kandidat. Dan bagaimanapun calon kandidat lawan memiliki masa lalu yang dapat diperbaiki, tetap lebih baik bagi saya memilih kandidat yang punya masa lalu yang jelas-jelas mulus. Istilahnya, bila ada pilihan bodi mobil mulus, yang satu berasal dari ketok magic, yang satu memang dari sononya mulus, masa saya memilih yang pernah cacat, walaupun sekarang mungkin saja sudah mulus lagi karena di ketok magic? Daripada saya beban moral dan memikirkan apakah calon presiden yang saya dukung ini benar atau tidak, ditinjau dari masa lalunya, lebih baik saya memilih yang pasti-pasti saja. Dengan memilih Jokowi, saya tidak perlu terbangun terkaget-kaget di tengah malam (lebay) dan kuatir apakah bila Jokowi jadi presiden, suatu saat akan ada kasus korupsi atau kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang tiba-tiba akan muncul ke permukaan dan menimpanya.

2. Jokowi memiliki pengalaman dan hasil kerja.

Mari kita hadapi: di mana-mana kalau HRD hendak menerima pelamar kerja, maka pelamar yang memiliki pengalaman kerja lebih tinggi biasanya yang akan memiliki kesempatan diterima lebih besar. Kenapa? Karena penyesuaian diri yang dilakukan tidak perlu terlalu banyak. Sudah paham dengan liku-liku birokrasi dan administrasi di pemerintahan. Kalau kita lihat, Jokowi pada awal memimpin DKI Jakarta pun memiliki kendala-kendala, terutama berhubungan dengan pengesahan dana di DPRD. Mungkin Jokowi yang sudah berpengalaman sebagai walikota di Solo pun kaget dengan hal itu. Namun kendala tersebut dengan cepat dicarikan solusinya, seperti misalnya dengan menggunakan dana CSR, sehingga Pemprov DKI tidak bergantung sepenuhnya dengan dana dari DPRD. Manuver-manuver yang seperti ini yang dapat semakin cepat ditemukan seiring dengan meningkatnya pengalaman seseorang.

Hal itu juga diperkuat dengan hasil-hasil kerja Jokowi yang memang membuahkan hasil, seperti waduk-waduk, transportasi, pemindahan dan penertiban PKL, rumah susun, jaminan kesehatan dan pendidikan, dan masih banyak lagi. Walaupun ada beberapa yang memang masih belum, seperti misalnya penanganan banjir yang belum selesai, serta Jakarta yang masih relatif macet. Walaupun saya bisa berargumen juga bahwa penanganan dua hal itu membutuhkan waktu jauh lebih lama dari dua tahun, serta Jokowi sudah melakukan usaha-usaha pengurangan dampak, tapi mari kita terima saja dahulu bahwa memang masih ada pekerjaan Jokowi yang belum selesai sebagai gubernur DKI Jakarta. Karena, well, memang program-programnya dirancang untuk diselesaikan dalam masa jabatan lima tahun, bukan dua tahun.

3. Jokowi mengembangkan yang di dalam.

Ketimbang melakukan impor, Jokowi lebih senang untuk memberdayakan apa yang sudah dipunyai oleh Indonesia. Pada saat dia menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, dia menjalin kerjasama dengan daerah-daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pasokan yang ada di Jakarta, ketimbang meningkatkan impor dari Australia. Ketika menghadapi masalah bahwa harga bahan pangan dari daerah lain lebih tinggi daripada impor, maka Jokowi segera berinisiatif untuk membangun “tol laut”, yaitu jaringan transportasi laut dengan kapal-kapal besar yang rutin berjalan, sehingga harga-harga bisa ditekan. Salah satu yang sering didengung-dengungkan Jokowi adalah dia ingin harga semen di Jawa dengan Papua sama. Jokowi memilih untuk memaksimalkan potensi dalam negeri sebelum bergantung dari luar negeri. Jokowi berusaha agar Indonesia dapat berdikari.

4. Jokowi punya citra pejabat jujur dan beridealisme.

Untuk hal ini, saya tidak perlu membahas kandidat yang satunya. Cukup saya fokuskan di Jokowi saja. Jokowi, sekalipun sudah cukup “berumur”, tetapi citra yang ia bangun hingga sekarang dari hasil-hasil pekerjaannya sebagai gubernur DKI Jakarta membuktikan bahwa Jokowi benar-benar berjuang memerangi korupsi dan menghargai kebhinnekaan. Dia dapat bekerjasama dengan baik dengan Basuki Tjahaja Poernama sebagai wakil presiden, walaupun secara etnis serta agama berbeda. Jokowi memiliki jiwa “muda” yang masih penuh dengan idealisme, jiwa yang belum terkotori dengan kebiasaan deal-deal politik. Bahkan untuk menentukan pejabat setingkat Camat saja, Jokowi menggunakan tes. Jokowi sejak awal membuktikan dirinya tidak menerima deal politik bagi-bagi kursi, yang membuat salah seorang calon koalisi menyingkir ke calon kandidat presiden lawan oleh karena dia dikabarkan mensyaratkan meminta jatah kursi di kabinet. Idealisme seperti ini yang sudah jarang di Republik Indonesia.

5. Jokowi dikelilingi dengan orang-orang yang baik.

Tidak dapat dipungkiri memang ada juga beberapa orang yang tidak baik di kubu Jokowi. Tetapi jumlah orang-orang baik di kubu Jokowi melebihi yang kurang baik. Serta orang-orang yang baik itu adalah orang-orang yang dekat dan mempengaruhi Jokowi, seperti misalnya Anies Baswedan, Dahlan Iskan, dan kawan-kawan. Dan mereka pun berkata mereka mendukung Jokowi tanpa minta imbal jasa apapun. Dengan koalisinya yang nampaknya memiliki orang-orang yang sejalan pemikirannya dengan Jokowi, Jokowi punya beban langkah lebih ringan untuk memberantas kasus-kasus korupsi dan pelanggaran HAM. Bukan berarti Prabowo tidak akan bisa melakukannya. Tetapi berdasarkan analisa tentang orang-orang terdekat Jokowi, Jokowi punya keunggulan dan kemudahan untuk melakukan hal itu dibandingkan bila menganalisa orang-orang di dalam koalisi Prabowo. Bila Prabowo hendak mengusut dan menyelesaikan masalah-masalah pelik dan berlarut-larut di tanah air seperti misalnya kasus lumpur Lapindo atau kasus korupsi yang baru-baru ini terjadi, maka dia akan harus menginjak orang-orang terdekat di dalam koalisinya, yang mana itu pasti sedikit banyak akan menjadi hambatan.

6. Jokowi mencari permasalahan langsung ke akarnya.

Gaya Jokowi yang dikenal blusukan sejak menjadi walikota Solo tahun 2005 sampai sekarang menggambarkan bahwa Jokowi konsisten untuk tidak hanya duduk di kursi pemerintahan, tetapi mau turun ke jalan untuk melihat permasalahan masyarakat. Dengan gaya jemput bola itu, Jokowi tidak dapat ditipu oleh anak buahnya yang bergaya asal bapak senang, memberikan laporan-laporan palsu agar seolah-olah pekerjaannya nampak baik. Bahkan untuk materi pembuatan visi misinya, Jokowi bertemu dengan berbagai elemen masyarakat, seperti para guru, para petani, orang-orang di Indonesia timur, pedagang di pasar, dan masih banyak lagi. Dengan itu, Jokowi membuat visi misi dan target-targetnya bukan asal bicara, tetapi memiliki data dan fakta yang kuat di lapangan. Itu yang membuat argumentasinya menjadi kuat ketika Jokowi hendak mengatakan ya atau tidak, naik atau turun, baik atau buruk.

7. Jokowi punya kecenderungan dekat dengan rakyat.

Setiap orang memiliki gayanya sendiri. Gaya blusukan dari Jokowi membuat masyarakat merasa dekat dengan Jokowi. Masyarakat merasa bahwa mereka benar-benar punya pemimpin yang tahu kesulitan kehidupannya, bukan yang duduk di atas kursi pemerintahan dan tidak tahu menahu apa yang terjadi di bawah. Program ekonomi berdikari yang dirancangnya seolah mengatakan bahwa dia tahu kesulitan rakyat kecil, tetapi dia tidak mau rakyat kecil menjadi “korban” dari kemiskinan tanpa kekuatan untuk melakukan apa-apa. Dia mau rakyat mampu berdiri di atas kakinya sendiri untuk berdikari bagi kemajuan ekonominya sendiri, bukan lagi terus mengharapkan bantuan pemerintah. Itu semua didapatkannya oleh karena kedekatannya dengan masyarakat. Prabowo, di sisi yang lain, adalah seseorang yang elite, dan memiliki koneksi dengan banyak orang elite. Hal itu sebenarnya bagus, karena memang mungkin untuk memuluskan pekerjaan pemerintah, diperlukan koneksi-koneksi elite sehingga lobi-lobi yang dilakukan dapat berhasil. Namun akibatnya, ketika dia berkata bahwa konsep ekonominya adalah ekonomi kerakyatan, terasa kurang greget dan powerful, oleh karena citra yang dibangun Prabowo selama ini adalah dia lebih dekat dengan elite daripada masyarakat.

8. Jokowi membangun keluarganya dengan baik.

Saya di sini hanya mau membahas tentang keluarga Jokowi. Jokowi menikah dengan Iriana Widodo 27 tahun yang lalu, sehingga telah melewati usia pernikahan perak. Pepatah mengatakan, di balik pria hebat, selalu ada wanita hebat. Mereka dikaruniai tiga anak. Anaknya yang sulung, Gibran Rakabuming, telah memiliki usaha katering yang didirikannya semenjak lulus kuliah. Jokowi pun nampak sangat hormat dengan ibunya, Sudjiatmi. Nampak bagaimana sang ibu dengan setia menemani kampanye Jokowi ketika Jokowi kebetulan kampanye di Solo. Dalam hal ini, saya merasa gambaran Jokowi bukan mewakili seorang elite partai, tetapi seorang kepala keluarga biasa dari masyarakat biasa, yang mampu memanage keluarganya dengan baik sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang yang luar biasa. Kehidupan keluarga Jokowi nda neko-neko. Tetapi justru itu yang membuat masyarakat biasa mampu untuk mereferensikan dirinya kepada kehidupan keluarga Jokowi dan menjadikan keluarga Jokowi sebagai role model bagi kehidupan mereka.

Demikian delapan alasan kenapa saya memilih Jokowi. Prabowo bukannya tidak punya kualitas yang baik, tetapi kualitas yang dimiliki Jokowi masih jauh lebih baik daripada yang ditampilkan oleh Prabowo, yang membuat saya sementara ini menjatuhkan pilihan kepada Jokowi. Sekalipun pemilu ini langsung, jujur, bebas, adil, dan rahasia, tapi saya mau untuk membuka “rahasia” saya yang nampaknya juga sudah menjadi rahasia umum, bahwa saya memilih Jokowi sebagai presiden RI periode 2014-2019. Bagaimana dengan anda?


English summary of the article.

This article is talking about current Indonesian politic season, which is going to held a presidential election in July 9, 2014. There’s only two candidates running for president. The first one is Prabowo Subianto, an entrepreneur, an ex-military general and the leader of Gerindra Party. The second one is Joko Widodo, also an entrepreneur, formerly a city governor, and currently a province governor. I explained that I’m more inclined to choose Jokowi (nickname for Joko Widodo) because of these eight reasons:

  1. Jokowi has a clean track record, and has never been associated with corruption and human rights violation.
  2. Jokowi has past experiences as city and province governor, and his track record is good on that. This allows him to get started at full speed.
  3. Jokowi is focused on developing the intern and infrastructure of Indonesia, and he has vision of Indonesia is able to be autonomous, not depends on other countries anymore.
  4. Jokowi has a clean government image and uphold his idealism. He doesn’t categorized people based on ethnicity or religion. He’s not accustomed to making politic deals, he’s just focus on working and giving his best.
  5. Jokowi is mostly surrounded with good people, which share his idealism and vision, but don’t demand something in his future government for return. This makes easier for him to create good and clean government.
  6. Jokowi has a method of finding the root of the problems. He’s not reluctant to go to the people and ask to them what’s their problem, their need and want.
  7. Jokowi is inclined to have a good relationship with low and middle class people, while his opponent Prabowo is more inclined to relate with elitist and high level people.
  8. Jokowi has raised a good family, that can become a model for other families throughout the country. The way Jokowi handles his family can partially characterize on how he maintains his relationship with the people and manages the country.

These eight reasons are what makes me inclined to choose Jokowi. How about you? What have you heard about Indonesian presidential election?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s